10 Destinasi HITS Palembang

1. LRT (Light Rail Transit) Dalam Bahasa Indonesia disebut Lintas Rel Terpadu. LRT ini sangat sesuai dengan perkembangan jalan di perkotaan. Rel di bangun disisi atas jalur lalulintas hingga bisa bersinergi dan salah satu solusi terhadap kemacetan. LRT pertama di Indonesia ini tak disangkal menjadi euphoria baru bagi masyarakat termasuk saya, seraya menanti selesainya proyek LRT di Jakarta, maka kesempatan ke Palembang kali ini saya manfaatkan untuk menjajal LRT. Landing dengan mulus di bandara International Sultan Mahmud Badaruddin II setelah menempuh penerbangan selama 50 menit dari bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta, walau sempat sport jantung beberapa kali turbulence saat meninggalkan Jakarta yang sedang hujan badai dan petir menyambar-nyambar sedikit membuat ciut perjalanan kali ini.

gerbong LRT di Palembang

Beli tiket di loket seharga Rp 10.000.   Tap barcode pada tiket ke mesin tap. Penjaga akan mengarahkan kita menuju LRT. LRT akan berangkat tiap 30 menit sekali. Perjalanan pertama pada pukul 04.30 dari stasiun DJKA, sedangkan dari Bandara baru dimulai pukul 06.15. Jadual LRT terakhir adalah 17.30 dari Stasiun bandara menuju stasiun DJKA.

Perjalanan sayapun dimulai dari stasiun Bandara dengan melewati beberapa stasiun lain yaitu stasiun Asrama Haji, RSUD, Punti Kayu, Bumi Sriwijaya, Dishub, Cinde, Ampera, Jakabaring, dan berahir di DJKA. Nah karena saya akan ke daerah Jakabaring Sport City, maka saya harus turun di stasiun Jakabaring (sekitar 45 menit), dengan kecepatan maksimal 40 km/jam, LRT menjadi sebuah moda transportasi yang diunggulkan, tak hanya mengurangi kemacetan namun juga menjadi sarana wisata, karena dari atas LRT kita bisa melihat pemandangan kota Palembang , terutama saat melewati jembatan Ampera dan sungai Musi yang menjadi Ikon kota Palembang.

2. Jakabaring Sport City

Tampak depan gelora Sriwijaya
Wisma Atlit di kawasan Jakabaring Sport City

Moment Asian games yang berlangsung bulan Agustus 2018 yang lalu menjadi ajang penting dunia mengenal Indonesia lebih banyak lagi. Helatan bergengsi tersebut menjadikan Palembang juga sebagai salah satu centra pelaksanaan Asian Games. Dari 2 sarana olahraga dahulu tahun 2004 saat PON XVI dan Sea Games pada tahun 2011, hingga kini memiliki 17 sarana olahraga dengan bangunan yang apik. Usai perhelatan itu hingga kini masih digunakan sebagai sarana latihan bagi atlit-atlit di Palembang dalam event PORDA atau sejenisnya. Lahan seluas lebih dari 300 ha ini masih terus berbenah, merapikan, melengkapi dan memperbaiki sarana-sarana yang rusak.
Wisma atlit yang dibangun bak apartemen mewah menjadikan pemandangan yang patut di nikmati pula, sajian teras kamar yang di cat warna warni menjadi spot foto menarik untuk diabadikan. Jakabaring Rowing Lake juga menjadi spot menikmati wisata di Jakabaring Sport City, begitu lokasi ini lebih dikenal.  Oiya ingin merasakan bermalam bak Atlit? Per-malam dengan kapasitas 4 tempat tidur tunggal lengkap dengan lemari, AC dan kulkas, dapur dan kamar mandi hanya Rp 440.000. Kamu bisa menghubungi pihak pengelola di Jakabaring ya.

3. Jembatan Ampera Ini sih udah gak diragukan lagi, Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) ini dahulu bernama jembatan Soekarno, di bangun tahun 1957. Sepanjang 1 km dengan lebar memuat 4 lajur kendaraan. Dahulu kala jembatan ini bisa di buka untuk lewatnya kapal-kapal besar dan tinggi. Namun karena sudah tidak ada lagi kapal besar yang lewat maka sudah tidak pernah lagi dibuka. Kemegahan tiang pancang bercat merah bertulis AMPERA menjadikan jembatan yang menghubungkan daerah Ilir dan Ulu yang terpisah oleh sungai Musi. Berjalan di trotoar jembatan ini menjadikan pengalaman yang mengasyikkan, karena kita bisa memandang luas area Ilir dan Ulu, ada pasar tradisional 16 Ilir, kampung Kapitan. Kemudian turun hingga tiba di Plasa Benteng Kuto Besak. Tulisan Kota PALEMBANG menjadi serbuan para swa foto, juga di depan patung ikan Belida. Dilanjut dengan menikmati sore nyemil gorengan dan menyeruput kopi panas di warung terapung di tepian sungai Musi.

Jembatan Ampera
Benteng Kuto Besak  

4. Kampung Kapitan Kapitan adalah sebutan bagi petinggi daerah di jaman kerajaan dahulu kala. Tugasnya mengurus kepentingan rakyat, tentang pajak, pernikahan, perjanjian dll. Letak kampung Kapitan ini di daerah 7 Ulu, bisa menyeberang dengan ketek (perahu kayu) dari dermaga Ilir atau langsung turun dari jembatan Ampera, apabila bingung, tinggal tanya saja ya ke warga setempat, karena kampung Kapitan adalah daerah pecinan sudah  sangat familiar sebagai objek wisata sejarah di kota Palembang. Berjalan di tepian sungai Musi, dan belok kiri melalui jalan setapak, hanya 200 m dilalui kita bisa menemukan rumah Kapitan. Rumah Beton berwarna putih dan disebelahnya rumah kayu asli rumah Kapitan.

Rumah Kapitan
Interior rumah kayu Kapitan

Ada dua Rumah kayu dan beton bercat putih yang masih terawat baik dihuni oleh pak Mulyadi keturunan 14 dari Kapitan. Beliaulah yang selama ini bertahan tinggal dan melestarikan budaya dan sejarah Kapitan. Untaian cerita akan mengalir dari perbincangan hangat dengannya. Kamu akan terkagum-kagum dengan benda-benda sejarah di dalamnya. Bentuk design pintu hingga jendela yang di design dengan baik dan berteknologi tinggi.
ukiran matahari di atas pintu sebagai lambang untuk melihat luas dan berwawasan luas, bentuk ujung atap yang runcing sebagai bentuk alis, yang menjadi pelindung mata dalam melihat ke masa depan

Oiya di sini kita bisa juga melihat kamar Pangeran Tan bu An saat bertunangan dengan Putri Siti Fatimah, ada ruang sembahyang, serta meja dan kursi tempat Kapitan biasa minum teh . Yang unik lagi adalah foto 3 dimensi kapitan yang seolah bisa mengikuti pandangan mata kita bergerak ke kiri atau ke kanan, penasarankan? Ayo buruan dikunjungi.

5. Pulau Kemaro Banyak cara menuju pulau Kemaro, bisa dengan Ketek (kapal kayu) bermuatan hingga 8 penumpang,dengan bus air, atau dengan cruise. Tidak jauh hanya ditempuh selama 30 menit dari dermaga BKB (benteng Kuto Besak).

Gerbang depan dan makam Pangeran Tan Bun An serta Putri Siti Fatimah dengan latar Pagoda berlantai 9

 

 

 

 

View dari lantai 9 Pagoda Pulau Kemaro

Konon pulau Kemaro adalah pulau yang tidak pernah tenggelam dan tidak pernah banjir dalam kondisi musim apapun sungai Musi. Dari kejauhan kita sudah bisa menyaksikan keberadaan Pagoda khas peradaban China yang dibangun tahun 2006.

Bersandar di dermaga pulau Kemaro, kita akan di suguhi dengan Klenteng Hok Tjing Rio (Klenteng Kuan Im) , klenteng ini dibangun tahun 1962. Dua buah makam Pangeran Tan Bu An (putra kerajaan dari negeri Cina) dan Putri Siti Fatimah (putri raja Sriwijaya) bisa kita saksikan, mereka adalah lambang kisah cinta anak manusia, dan mereka meninggal di sungai Musi saat sudah bertunangan.

Ingin naik ke atas Pagoda 9 lantai ini? Kamu bisa menghubungi penjaganya untuk membuka kunci Pagoda, karena dari atas Pagoda kita bisa menykasikan pemandangan yang cantik sungai musi dan pabrik pupuk Pusri.

6. Museum Sultan Badaruddin II

Museum Sultan Badaruddin II

Museum, jangan lupakan sejarah, mau tau tentang sejarah suatu daerah? Maka cari taulah di museum, dari museum kita bisa mengenal budaya, adat dan informasi penting terbentukya suatu daerah. Begitu pula museum Badaruddin II ini, karena letaknya yang sangat strategis yaitu masih di kawasan daerah jembatan Ampera dan bersebelahan dengan benteng Kuto Besak, maka tak susah mencari letaknya.
siapakah Sultan Badaruddin II?, beliau adalah Pemimpin kesultanan Palembang ditahun 1800an, yang memimpin kerajaan Palembang usai ayah beliau Sultan Mahmud Bahauddin dan kakeknya Sultan Badaruddin I meninggal dunia. Museum ini sangat khas berbentuk rumah Limas, berlantai dua. Dan di dalamnya kita bisa melihat alat-alat tenun, kain khas palembang, tempat tidur, dan foto-foto sejarah perjuangan rakyat Palembang. Dan kini sudah ada barcode di setiap benda sejarah, hingga kamu bisa langsung mendapatkan link informasi di HP kamu tentang benda-enda di museum ini. Keren kan

7. Rumah BaBa Boen Tjit

Rumah baba Boen Tjit yang sudah ebrusia 300 tahun lebih

Nah ini destinasi milenial banget, karena di gagas dan di prakarsai oleh GENPI Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Sumatera Selatan. Tanpa meninggalkan ciri khas daerah, menjadikan rumah Baba Oeng Boen Tjit yang konon sudah berusia 300 tahun ini menjadi fenomenal baru yang kekinian. Lokasinya berada di Lorong Saudagar Yucing, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang dengan maksud mengajak anak muda mengenal sejarah namun juga terlihat fun dan tidak konvensional. Namun sebaiknya datanglah di hari minggu.

Hari Minggu kerap lebih ramai banyak aktivitas jual beli dan tamu yang hadir saat di hari Minggu. Lokasi ini tak jauh dari kampung Kapitan, bisa ditempuh dengan naik ketek menyusuri sungai Musi ataupun lewat darat dengan mobil atau sepeda motor. Tak hanya rumah Baba Oeng Boen Tjit bisa kita saksikan disini, tapi masyarakat yang sedang mengerjakan kerajinan nipah juga seru loh, ibu-ibu asik menganyam piring dari lidi nipah

banyak dijumpai pengrajin nipah

8. Pusat Kuliner Lorong Basah

Suasana Malam di Pusat Kuliner Lorong Basah

Terletak di kawasan Pasar 16 Ilir. Nah ini yang perutnya suka keroncongan kalau lagi traveling, daripada jauh berpindah satu lokasi ke lokasi lain, bisa deh berkunjung kesini, ada aneka jajanan lokal, minuman dan makanan khas Palembang disini, dengan gaya santai meja dan kursi kayu, terasa hangat dengan lampu warna-warni , dan ada panggung dengan sound system juga disediakan bagi yang punya acara reunian, sekedar ngobrol santai ataupun ulang tahun bersama teman-teman. Pokoknya seru deh. Aslinya tempat ini adalah sebuah jalan atau lorong tempat berjualan pedagang kaki lima mulai dari penjual ikan sampai penjual barang kelontongan, yang di modifikasi menjadi pusat jajanan di kota Palembang.

9. Bukit Seguntang Bukit tempat bersemayamnya raja dan tokoh terkenal raja Palembang, terletak di kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang. Bukit yang tidak tinggi ini menjadi wisata ziarah makam tokoh-tokoh raja, bangsawan dan pahlawan Melayu-Sriwijaya. Ada 7 makam yang berada disini yaitu:

Makam di bukit Seguntang
  • Radja Sigentar Alam, Raja ini nama aslinya adalah Iskandar Zulkarnain Alamsyah, Ia berasal dari dari Kerajaan Mataram. Radja Segentar pada zamannya berhasil menaklukkan hampir seluruh pulau Sumatera hingga ke negeri tetangga Johor dan Malaka di Malaysia.
  • Putri Kembang Dadar, bernama asli Putri Bunga Melur. Ia dipercaya sebagai putri tercantik kala itu.
  • Putri Rambut Selako, yang bernama asli Putri Damar Kencana Wungsu. Menurut cerita Ia berasal dari Keraton Yogyakarta anak dari Prabu Prawijaya.
  • Pangeran Radja Batu Api. Ia berkelana ke tanah Melayu untuk menyiarkan syariat agama Islam
  • Panglima Bagus Kuning yang berasal Mataram. Ia datang ke Palembang untuk mengawal Radja Segentar Alam.
  • Panglima Bagus Karang, yang mempunyai tugas sama dengan Panglima Bagus Kuning, yakni untuk mengawal Radja Segentar Alam.
  • Panglima Tuan Djundjungan, beliau juga merupakan ulama dari Arab yang datang ke tanah melayu (Swarnadwipa) untuk berkelana sambil menyiarkan agama Islam.

Banyak bangunan yang sudah berubah saat saya terakhir kesini beberapa tahun yang lalu, Pagoda dan rumah makam sudah tidak ada lagi, semua makam sekarang sudah terbuka dan di atapi dengan atap oning

10. Al-quran Raksasa Jalanan menuju lokasi masih kurang optimal, karena belum semua diaspal dengan baik, namun lokasi museum Al-quran ini menjadi sangat layak untuk dikunjungi. Berada di kelurahan Gandus kecamatan Gandus RT 03 RW 01 di jalan M. Amin Fauzi, kampung Soak Bujang Palembang.
Tempatnya tidak terlalu besar, dari luar pagar kita sudah bisa melihat bagian ujung dari Al-quran raksasa ini. Setelah membayar tiket, kita bisa naik dan menyaksikan dengan dekat ayat-ayat suci ini terukir indah di kayu Trembesi berukuran tinggi lebih dari 1,7 x 1,4 m, dengan dipasang engsel, lembaran kayu berukir ayat-ayat suci ini bisa di buka dan tutup layaknya jendela. Siapa pembuatnya? Dialah Kiagus Syofwatillah Mohzaib. Saat azan juhur tiba, kita bisa melaksanakan sholat berjamah juga disini.

Al-quran Raksasa

 

OK semoga 10 destinasi Hits ini bisa jadi rekomendasi kamu menjelajah Palembang ya, bisa kelar kok dalam 2 hingga 3 hari, Salam

 

 

 

Comments

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  1. Rizka

    Jadi wisma atletnya skrg bisa disewain harian ya. Asiknyaaa….
    Penasaran sama jakabaring dan Al-quran raksasa itu, sama makan pempek aseli Palembang. Kemaren gajadi PO sih mbak.. Hahahah :p

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  2. Evi

    Makin banyak alasan untuk datang ke Palembang karena makin banyak juga destinasi menarik untuk disambangi. Semoga pariwisata Palembang terus maju Dan wisatawan pun makin banyak datang ke sana. Lalu ekonomi masyarakat juga bertumbuh. Amin

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *