“Tapak tangan” Menuju Peradaban 10.000 tahun lalu

Foto Mahakarya “Wisata Archeology” karya Ali dan “Sampan” karya Arfah mengingatkan saya kembali pada perjalanan penuh sejarah menyusuri sungai Bengalon dengan perahu kayu sederhana membelah sungai Bengalon menuju Gua prasejarah, Gua Tewet.

Kalimantan, dalam bayangan kita adalah hutan rimba, sungai yang lebar serta suku Dayak.  Tak salah lagi, yang keliru saat ini adalah kata “Hutan Rimba” karena hutan Kalimantan saat ini sudah banyak di tebang baik itu secara legal maupun illegal.  Lebih banyak dijumpai hutan sawit daripada hutan kayu besar, kalaupun ada hanya pohon-pohon muda diatas tebangan kayu besar.  Uhhmmm ada rasa sesak menyaksikan pulau ini.  Mungkin ke depan hutan Kalimantan hanya sekedar dongeng bagi anak cucu kita.  Semoga kesadaran menjaga lingkungan bisa terus digalakkan dan disebarluaskan keseluruh pelosok negeri, agar hutan tetap lestari .

Menemukan sebuah buku di dunia maya dengan judulBorneo, Memory of the Caves” karya Luc Henri warga berkebangsaan Perancis, menggugah hati saya dan teman-teman untuk mengunjungi gua ini secara langsung, ada rasa nasionalisme yang terkoyak menyaksikan bahwa orang asing sudah tiba di tempat nun jauh disana, saya sebagai anak bangsa merasa tergugah.  Segera mencari kontak teman di Samarinda.  Akhirnya keinginan besar ke Gua Tewet ini berhasil kami capai dengan segala pengorbanan materi, tenaga dan mental.  Memang semua butuh perjuangan, …. sekarang kawan bukan esok hari.

Sungai Bengalon adalah salah satu anak sungai Mahakam yang dikenal dengan sungai terpanjang di Indonesia. Kalau aliran sungai Mahakam menuju ke Selatan, maka rute aliran sungai ini lebih condong ke timur, dan bermuara di kecamatan Bengalon, Kutai Timur.

Bermalam sejenak di desa Bengalon (6 jam dari Samarinda), sebuah rumah panggung sederhana, Kamipun tidur hanya beralas tikar.  Namun sambutan hangat istri Pak Tewet membuat Kami bak keluarga baru di rumah itu, hingga larut malam Kami masih terbuai cerita pak Tewet tentang puluhan gua di ujung sungai Bengalon sana. Mengapa disebut Gua Tewet? Karena tahun 1980an Gua ini ditemukan oleh pak Tewet yang saat itu berprofesi sebagai penjaga gua yang berisi sarang Walet. Kisahnya mencari sarang wallet, hingga menjualnya ke kota dengan berjalan kaki puluhan kilometer.  Kini diusianya yang sudah menginjak 70 tahun ia masih tampak kuat. Walau sudah berkurang pendengarannya.  Hingga pagi hari kami terjaga dengan raut kantuk.  Bergegas menyiapkan perbekalan, serta perahu.

Perjalanan menuju gua tewet
Perjalanan menuju gua tewet

Dua perahu bermesin 10 Pk telah bersandar di belakang rumah Pak Tewet yang langsung berbatasan dengan sungai Bengalon, sambil mendengarkan cerita bu Tewet yang mengatakan kerap melihat buaya di belakang rumahnya , sedikit membuat ciut nyali Kami.  Apalagi di tengah sungai sana?? Sesaat bergidik membayangkannya, tapi semangat Kami tak pudar, Kami harus tiba dan melihat langsung gua prasejarah ini.  Semangat sebagai anak bangsapun kembali berkobar.
Perahu satu dikemudikan oleh Pak Tewet dan anaknya  Lihan (25 tahun) serta dua orang teman, sedangkan perahu kedua berisikan saya, seorang teman dan Pak erte.  Sepagi mungkin Kami menata sedemikian rupa keperluan logistik  antara lain dua dus mie instan, 2 keranjang telur, 100 liter solar, Pakaian serta perlengkapan memotret, kamera, tripod dll di dalam perahu yang hanya berukuran 5 meter ini menjadi kesulitan tersendiri, perahu yang berisikan 4 orang dan setumpuk barang nyaris membuat perahu terasa sesak seketika, hanya 1 posisi duduk yang bisa Kami lakukan, bersila dan berselonjor, tumpukan barangpun Kami jadikan sandaran badan sekedar melepas jenuh dan pegal di punggung.  Sedangkan Pak Amril (53 tahun) adalah ketua RT di desa Tepian Langsat kec Bengalon yang membawahi 47 kepala keluarga, Pak erte panggilan akrab yang kerap Kami gunakan, pria beristri satu dan putri satu ini berkulit hitam legam, berbeda dengan Pak Tewet yang berkulit putih.

Perjalanan ini akan menempuh waktu kurang lebih 8 jam membelah sungai Bengalon hingga sungai Jelai,
Langit biru, awan cerah membuat Kami lega karena gelombang air juga turut tenang, dua perahu saling beriiring menyusur sungai. Sungai-sungai di Kalimantan tidak ada yang kecil, termasuk sungai Bengalon ini, tidak kurang memiliki lebar seratus meter, dan semakin ke hulu semakin mengecil dan berkelok-kelok.  Cerita tentang adanya buaya pun sudah terlupakan, sehingga Kami begitu menikmati perjalanan. Namun bagaimana bisa lupa, ketika mendadak perahu Kami berpapasan dengan buaya, sesaat hanya tertegun diam, bercampur aduk antara takjub dan takut, keduanya sulit dijelaskan.  Untungnya begitu perahu semakin mendekat buaya itupun langsung lari menceburkan diri ke air… ya Tuhan semoga dia tak mengejar perahu Kami.  Jangan coba mencemplungkan tangan ke air, kalau tak ingin disambar buaya.  Bergidik  ciut rasanya….

Pertemuan pertama dengan buaya ternyata masih berlanjut hingga 4 kali. Untuk pertemuan berikutnya saya sudah membiasakan dengan temu darat buaya sejati, sehingga begitu melihat buaya saya sudah siaga dengan kamera berlensa panjang untuk segera membombardir dengan menekan shutter. Hingga sore hari tempat yang ditujupun belum juga tiba, bahkan saya sempat tidur siang diatas perahu, karena jarak tempuh yang sangat jauh. Dan sore hari sekitar pukul 4, indahnya suasana di tepi sungai, monyet berlompatan di atas pepohonan, burung bangau berterbangan, koak berteriak berderu, saya bagaikan berada dalam serial “Indiana Jones”. Sungguh seharian hidupku diatas perahu, dari pagi hingga malam.  Arus liar, hutan liar, hewan liar sudah saya temukan.  Hingga akhirnya mendarat di sungai Jelai.  Sebelum malam, kami bergegas menuju gua, Gua Tewet yang berada diketinggian 147m dpl, dengan terpaksa harus kami panjat, dengan berbekal tali seadanya, saya dan teman-teman berhasil naik hingga gua, dengan rasa haru, kami akhirnya menyaksikan tapak tangan gua Prasejarah  peradaban manusia 10.000 tahun yang lalu, Kami generasi kini telah menjadi saksi.  Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam saja di gua ini, agar esok hari lebih leluasa menikmati keindahannya.

Menurut Jean-Michel Chazine, etno-arkeolog dari CNRS (Centre National de la Recherche Scientifique), lukisan di Gua Tewet menggambarkan hubungan antara dukun dengan alam roh. Gambar-gambar telapak tangan di dinding gelap itu merefleksikan ritual pengobatan tradisional di mana dukun menempelkan telapaknya pada tubuh pasien, lalu menyemburkan ramuan mujarab dari mulutnya.

Ada lebih dari lima gua yang memiliki gambar tapak tangan yang tersebar di sepanjang barisan bukit-bukit sekitarnya.  Antara lain Gua Mardua, Gua Payau, Liang Sara, Gua Masri, Ilas Kenceng, dan Gua Tewet.

Terimakasih pada pak Tewet, pak Erte, dan ketiga sahabatku yang telah bersusah payah menemani hingga tiba di gua Tewet, dengan sebuah perahu sederhana ini, mengantarkan Kami dalam peradaban masa lalu. Gua tewet dan telapak tangannya , menjadi bukti  masa prasejarah peradaban manusia, konon berdasar penelitian Archeolog, telapak tangan di Gua Tewet adalah yang tertua diantara telapak tangan yang ada di belahan nusantara lainnya, antara lain di Sulawesi Selatan, Papua, Pulau Kei. Sembilan jam bukan waktu yang singkat menyusuri sungai Bengalon.  Kalau bukan anak bangsa, siapa lagi yang menyaksikan peradaban ini.  Borneo masa lalu, sebuah Mahakarya nyata bagi kini dan masa depan menjadi sejarah peradaban manusia

Comments

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *