Nepal-Negeri di Atap langit, Sekali takkan cukup

Kabut tebal perlahan turun, suhu di Thamel masih berkisar 6 drajat C, pagi ini lebih dingin terasa di banding hari sebelumnya. Matahari tak keliatan, kabur menutupi sinar yang biasa menghangatkan. Perubahan mendadak dari langit biru cerah terus menerus 9 hari ke belakang kini dengan arah pandang hanya 100-200m ke depan. Suasana hiruk pikuk Thamel belum lagi menggeliat. Taksi mungil putih melaju kencang membelah kota Kathmandu mengantarkan saya menuju Bandara. Barisan antrian imigrasi berhasil dilalui, antrian menuju boarding room dibedakan berdasar gender, antrian wanita lebih pendek dibanding antrian laki-laki yang didominasi oleh turis dan para penduduk Nepal yang bekerja di Negara tetangga lainnya. Kabut tebal ini seakan mengerti apa yang saya rasa. Hari ini saya harus kembali ke Tanah air.   Kabut tebal ini pula mengakibatkan penerbangan Kathmandu-Kualalumpur pukul 11.30 terpaksa delay 30 menit. Berat hati melangkah memasuki tangga pesawat meninggalkan Kota yang selama 9 hari memberikan kenangan terhadap sisi lain kehidupan manusia , Nepal sekali takkan cukup.

 

NAMASTE Nepal

Nepal, sebuah Negara di Asia Selatan yang berbatasan dengan China di sebelah utara dan India di barat, timur, dan selatan. Di kelilingi oleh daratan hingga menjadikan Nepal sebuah negara unik, salah satu Negara di dunia yang tidak memiliki garis pantai “land locked country”, dan satu-satunya Negara yang memiliki bendera dengan bentuk dua buah segitiga siku siku

Lelaki Nepal dengan topi khas Nepal yang disebut Dhaka

Jadi jangan heran apabila kita banyak bertemu dengan masyarakat yang berwajah India namun berkulit seperti china. Hampir sama dengan di Bali, budaya dan agama berjalan dengan selaras, hingga sangat tepat apabila Negara ini menjadi salah satu Negara yang layak dikunjungi .

Selama hampir 250 tahun sebagai Negara berbentuk Kerajaan Hindu yang dipimpin oleh seorang Raja, masa demi masa pemerintahan berbagai gejolak perubahan dari Kerajaan hingga ke sistem kepala Negara berlangsung tak pernah usai, hingga menewaskan ratusan ribu penduduk, raja dan putra mahkotanya, akhirnya pada tahun 2008 kerajaan Nepal resmi dibubarkan dan Nepal berubah menjadi negara Republik yang dipimpin oleh Kepala Negara. Hingga memposisikan Nepal satu dari 50 negara termiskin di dunia, karena Negara ini begitu sibuk dengan perebutan tampuk pemerintahan.

memandang Nepal mengingatkan kita pada kondisi Indonesia tahun 70-an. Jalanan berdebu, pembangunan baru bergeliat, penduduk padat di tepian sungai, sampah berserakan di jalanan dan pusat kota. Bentuk-bentuk kendaraan yang masih keluaran tahun 70-dan 80an, Negara ini masih berbenah

30 menit sebelum mendarat suara terdengar di seluruh kabin …Namaste (salam sejahtera, salam sentosa) … inilah sapaan penuh ramah itu , sang pilot memberitakan bahwa kami sedang terbang tepat di antara pegunungan Himalaya, sontak penumpang gelisah dah semua mata tertuju pada jendela di kanan dan kiri, saya pun berusaha melongokkan kepala, seat belt saya lepas sementara, kurang beruntung saya mendapatkan duduk di barisan tengah diantara 9 deretan kursi pesawat berbadan lebar ini. Berdiri sejenak menuju jendela, barisan putih bak kapas, bukan ini bukan awan, tapi itu salju kawan, salju putih menutupi semua puncak-puncak deretan Himalaya. Tak ada kata yang mampu terucap, kini aku bertatap muka dengan Himalaya, disana itu kah puncak Everest?, aku tak berani bermimpi, tapi kini semua nyata, 8 dari puncak tertinggi di dunia kini kulihat sendiri. Bak bertemu kekasih hati, membuncah bahagia penuh syukur, sebuah mimpi yang terkabulkan, Himalaya … yang bahkan tak berani kuimpikan.

Semua orang mengeluarkan camera,mulai dari smart phone hingga DSLR, semua ingin mengabadikan momen luar biasa ini, cuaca cerah langit biru menambah kontras barisan putih … ini Sagarmatha

Empat jam terlewat sudah, kami tiba di Tribhuvan International Airport, Kathmandu, Nepal. Bandara inipun masih berbenah, perbaikan disana sini. Memasuki ruang kedatangan International, terlihat tampak sibuk, para pendatang hilir mudik mecari lembaran permit kedatangan. Visa Nepal bisa didapatkan on arrival. Isi dengan teliti no penerbangan, tempat tinggal di Nepal (bisa diisi alamat hotel yang dituju), no passport dan sediakan pula pasphoto ukuran 3×4 sebanyak 1 lembar yang nanti akan diserahkan pada saat pembayaran Visa sebesar 25 USD di loket imigrasi.

Sebenarnya tak memakan waktu lama pengurusan Visa on Arrival ini, yang membuat lama hanya antrian yang cukup panjang, dan karyawan imigrasi yang semua masih menggunakan pulpen untuk menuliskan semua berkas-berkas imigrasi, jadi harap maklum dan sabar saja.

Setelah mengambil bagasi kami langsung menuju parkiran di mana salah satu staff hotel sudah menanti untuk menjemput kami. Perasaan lega setelah lolos dari serangkaian proses imigrasi, udara terasa mulai menusuk, dingin berkisar 15C, menghirup dalam-dalam udara Nepal … ini saatnya petualangan dimulai.

 

Tempat-tempat Menarik di Nepal

KATHMANDU

Perjalanan dari bandara menuju Thamel, yaitu kawasan pusat wisata di Kathmandu. Di sini hampir tidak ada aturan lalu lintas, hanya terlihat satu dua lampu merah yang nyaris tidak berfungsi. Semua kendaraan saling berebutan jalan dengan bunyi klakson tanpa henti. Sepertinya, mobil dan pejalan kaki mempunyai hak yang sama, berkali kali supir kami harus membunyikan klakson panjang berulang-ulang karena jalanan kecil hanya memuat dua mobil saja, dipenuhi orang yang sedang mengobrol, baca sms ditengah jalan atau sedang membeli jeruk dari pedagang jalanan. Sebaliknya, supir taksi tetap saja memaksa masuk walaupun pejalan kaki sedang menyebrang. Herannya, tidak satupun terlihat marah atau menyumpah saat hampir keserempet mobil. Semua orang terlihat santai saja dan memaklumi aturan lalu lintas yang tidak biasa bagi pendatang ataupun turis ini. Sayapun berusaha memaklumi cara tersebut, kekacau balauan lalu lintas ini langsung terobati saat menyaksikan kemegahan pegunungan Himalaya yang mengelilingi lembah cantik Kathmandu.

 

Kathmandu adalah kota terbesar di Nepal yang terletak di lembah luas dikelilingi oleh pegunungan Himalaya. Penelitian geologi juga membuktikan bahwa lembah Kathmandu memang pernah berasal dari danau besar dengan tiga kota yang kemudian dibangun yaitu Patan, Bhaktapur dan Kathmandu.

 

keramahan warga Nepal selalu menyambut para wisatawan untuk mengenal Negara nya yang memiliki harmoni keagamaan selama berabad-abad ini. Kathmandu juga adalah sumber harta karun bagi bangunan istana tua, pagoda dan stupa monumental, candi dan kuil yang bertebaran, ini adalah bukti mahakarya kejeniusan arsitektur zaman dahulu. Tak heran kalau kekayaan warisan budaya Nepal diberikan penghargaan UNESCO World Heritage di delapan situs, termasuk Durbar Square, Swayambhunath, Boudhanath dan Pashupatinath diKathmandu.

THAMEL

Berlokasi 10 menit dari pusat kota Kathmandu, Thamel dikenal sebagai pusat wisata dengan aktifitas tanpa henti hingga larut malam. Mulai dari hotel dan penginapan, restoran dan bar, toko-toko souvenir, kafe, juga agen perjalanan, semua dapat ditemukan di sini. Di daerah yang mirip Legian di Bali ini juga akan dimanjakan dengan kemudahan mendapatkan akses internet, karena hampir semua bangunan adalah area bebas wi-fi. Dalam satu restoran atau bar bisa ditemukan tiga jaringan nirkabel yang bisa digunakan, tinggal minta password dari pelayan dan menikmatinya dengan gratis. Kemacetan di Thamel menjadi hal biasa, karena jalanan yang hanya memuat dua mobil kecil ini dipenuhi oleh kendaraan roda empat dan roda dua, berbaur dengan pejalan kaki serta pedagang jalanan. Bagi yang senang belanja, Thamel akan memanjakan kita dengan begitu banyaknya toko-toko yang menjual pernak pernik khas Nepal pakaian, pashmina, souvenir, assesoris dan tak lupa segala kebutuhan perlengkapan outdoor mulai merk lokal hingga label international juga lengkap tersedia di Thamel. Di tempat ini juga wisatawan dapat memesan perjalanan wisata berikutnya untuk melakukan segala ativitas untuk menikmati pemandangan pegunungan Himalaya, dengan aktivitas trekking, paragliding ataupun mountain flight

 

DURBAR SQUARE

Durbar Square sebutan yang umum di Nepal, yaitu areal luas berupa alun-alun yang dikelilingi oleh bangunan arsitektur yang spektakuler dan jelas menampilkan keterampilan para seniman selama beberapa abad lalu. Terlihat dari gaya arsitektur nan apik dan indah di tiap bangunan yang masih berdiri disini. Segala etnis bisa kita temui disini, inilah alun-alun terbesar di Nepal. Banyak wanita Nepal lalu lalang berpakaian sari berwarna warni. Bagi wanita menikah mereka mendandai dirinya dengan tika, semacam pewarna yang dibubuhi di belahan rambut dan dahi bagian atas, sebagai pertanda hormat kepada sang suami, mereka memakai sari dan pashmina warna-warna terang dan mencolok terutama merah, lengkap dengan gelang sewarna, sedangkan untuk wanita yang belum menikah boleh bebas memakai warna apa saja bahkan celana jeans

Pengrajin gerabah di Bhaktapur (Photo: Raiyani)

 

THAMEL DURBAR SQUARE

Kita dapat melihat sebuah istana dari raja Malla dan raja Shah dan kuil Hanuman Dhoka, nama yang diambil dari patung Hanuman yaitu monyet pemuja bangsawan Ram. Meskipun istana dan kuil yang ada telah di renovasi berulang-ulang, alun-alun ini masih merupakan pusat peristiwa penting kerajaan seperti penobatan Raja Birendra Bir Bikram Shah pada tahun 1975 dan Raja Gyanendra Bir Bikram Shah pada tahun 2001. Lokasi situs istana Hanuman Dhoka yang merupakan tempat tinggal kerajaan Nepal sampai abad ke-19 ini dihiasi jendela kayu ukiran yang rumit yang terlihat di museum Tribhuwan King Memorial dan museum Mahendra.

 

Sore itu kami menutup perjalanan dengan mengunjungi Thamel Durbar Square. Salah satu tempat yang wajib untuk dikunjungi jika sedang berada di Kathmandu. Di sini terdapat istana para raja yang dulu pernah berkuasa di Nepal dan beberapa kuil tua yang sudah berumur ratusan tahun. Tempat ini begitu ramai dengan turis asing maupun lokal. Banyak dari mereka duduk di alun-alun untuk hanya sekedar mengobrol dan membiarkan waktu berlalu. Beberapa perayaan penting setiap tahunnya juga masih tetap dilaksanakan di sini. Nah, ada satu hal juga yang menurut saya menarik dari tempat ini. Di Durbar Square inilah seorang Kumari tinggal. Kumari adalah seorang gadis kecil yang dianggap sebagai renkarnasi dari Dewi Hindu yang bernama Durba (reinkarnasi manusia dari ibu Dewi Hindu). Proses pemilihan gadis ini pun tidaklah mudah. Banyak persyaratan dengan beberapa tahapan proses yang harus dilewati oleh seorang gadis untuk bisa dianggap sebagai seorang Kumari. Ketika seorang Kumari mendapatkan menstruasi pertamanya, maka dia pun dianggap menjadi orang biasa lagi dan pemilihan untuk seorang Kumari baru pun segera dilakukan. Setiap harinya selalu ada segerombolan orang yang berkumpul di bawah jendela sang Kumari dengan harapan untuk bisa melihatnya walau cuma hanya beberapa detik. Mereka percaya bahwa dengan melihatnya saja bisa mendatangkan banyak keberuntungan. Beruntungnya Kami datang di saat yang tepat, sore itu halaman istana sudah ramai pengunjung dan sayapun berhasil menyelinap ke dalam, di larang mengambil gambar apapun saat putri Kumari keluar, peraturan ini sangat ketat, apabila ada yang ketahuan mencoba memotret, seketika dia dikeluarkan dari arena tontonan, dan beberapa menit kemudian, tampaklah seorang putri berumur 9-10 tahun muncul dari balik jeruju kayu. Imut, putih dan cantik.

 

PATAN DURBAR SQUARE

Masih dengan hirup pikuk kota Nepal, melintasi pusat pasar, pedagang tepi jalan ramai berjajar sepanjang jalan, hingga mempersulit bagi pejalan kaki. Kami di ajak naik ke lantai dua rumah makan tersebut yang menghadap langsung ke dua kuil tua yang bernama Bhairavnath Temple dan Nyatapola Temple

 Nyatapola Temple adalah sebuah kuil dengan bentuk pagoda dan merupakan salah satu pagoda tertinggi yang ada di Nepal. Terdapat 5 lantai di bangunan tersebut dan di setiap lantainya terdapat patung penjaga. Menurut catatan, konon kuil tinggi yang masih bediri gagah ini hanya membutuhan waktu satu tahun untuk menyelesaikannya.

 

 

BHAKTAPUR DURBAR SQUARE

Bangunan tua nan eksotis di daerah Bhaktapur (Photo:Raiyani)

Hal yang unik dari Nepal juga dikenal dengan ‘kehidupan di atas atap’, jangan lupa menyempatkan diri untuk melihat pemandangan kota Kathmandu dari atap gedung hotel, dimana anda bisa melihat kegiatan sehari-hari penduduk Nepal di setiap atap rumah, seperti: ritual doa keluarga, mencuci pakaian dan berjemur rempah-rempah, kegiatan pangkas rambut, permainan sepak bola, pesta barberque sampai kehidupan berbagai macam burung gagak dan merpati.

Makan siang disini ada beberapa pilihan, salah satunya ada BHAKTAPUR Cafe and Resto. Jadi dari atas resto kita bisa liat sekeliling durbar square

Bhaktapur adalah sebuah kota adat kuno di sudut timur Lembah Kathmandu sangat terpelihara, sangat indah untuk dieksplorasi oleh wisatawan. Sebagai kota terbesar ketiga di Kathmandu dan pernah menjadi ibukota Kerajaan Nepal selama kerajaan Malla sampai abad ke-15. Bhaktapur terdaftar sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO untuk kekayaan budaya, candi, kayu, logam dan karya seni batu. Di situs ini terdapat rumah seni tradisional dan arsitektur, monumen bersejarah dan karya-karya kerajinan, jendela megah, tembikar dan industri tenun, candi dan kolam yang indah. Dan menjadikan Bhaktapur sebagai “The Living Heritage”

 

BOUDANATH

The Boudhanath (Batu Wisnu), merupakan salah satu situs Buddha tersuci di Nepal dan merupakan salah satu lokasi wisata terpopuler di Kathmandu. Harga tiket masuk NRS 150 saja atau sekitar Rp 15.000. Stupa berlukiskan mata Buddha yang menjadi ikon kota Kathmandu ini, didirikan oleh raja Nepal Licchavi Śivadeva antara 590-604 masehi, konon Boudhanath dibangun oleh seorang pangeran untuk meminta pengampunan atas perbuatan sengaja yang dilakukannya yaitu membunuh ayahnya sendiri. Banyak monk (biksu) dan warga Nepal dan Tibet berjalan mengelilingi stupa sambil berdoa dan menyentuh roda doa (praying wheels) yang terdapat di tembok luar stupa. Begitu pula para wanita Tibet, kita bisa melihat dari pakaian yang dikenakan Tibet dengan pakaian traditionalnya. Mereka memakai sejenis celemek dengan motif garis-garis yang berwarna warni. Namun biasanya hanya wanita Tibet yang sudah menikah saja yang memakai kain

Terlihat jejeran prayer flag (bendera doa) dengan lima warna cantik membentang horisontal panjang di kanan kiri stupa mulai dari puncak stupa membelah gundukan putih stupa yang selalu disiram dengan tepung putih sebagai lambing kemakmuran. Bendera doa ini juga sering disebut juga sebagai wind horse yang mempunyai arti kehidupan panjang dan langgeng.

Alunan Musik Om Mani Padme Hum di toko-toko souvenir di sekitar stupa menambah syahdu Suasana Boudanath . Asap dari dupa-dupa yang dibakar seringkali tercium diiringi dengan doa-doa yang dipanjatkan oleh para biksu.

Kawasan Boudanath (Photo:Raiyani)

 

PASHUPATINATH

Sadhu, orang suci agama Hindu di Nepal (Photo:Raiyani)

Sungai Bagmati dianggap sungai suci oleh Hindu dan Buddha, sungai ini menjadi pusat kremasi umat Hindu. Menurut tradisi Hindu Nepal, tubuh orang mati harus dicelupkan tiga kali ke sungai Bagmati sebelum di kremasi dan kemudian dimakamkan di kuil yang terletak diatas bukit disamping sungai. Banyak kerabat keluarga yang bergabung dalam prosesi pemakaman juga menyempatkan diri memercikkan air suci pada tubuh mereka pada akhir proses kremasi. Setelah kremasi selesai dilakukan, abu akan dikumpulkan dan disebarkan di sungai Bagmati di mana sungai ini akan terus mengalir dan akhirnya menyatu dengan sungai suci Ganges di Varanasi, India.

Di samping sungai Bagmati ini terdapat pula candi Pashupatinath yang merupakan salah satu Kuil Hindu tertua dan terbesar Dewa Siwa di dunia. Kuil ini sendiri diketahui keberadaannya sejak 400 Abad yang lalu. yang berarti umurnya sudah lebih dari seribu tahun. Namun, hanya umat beragama Hindu saja yang boleh diperkenankan untuk masuk ke dalam kuil. Para pengunjung yang bukan beragama Hindu hanya boleh berkeliling di sekitar wilayah luarnya saja.

Banyak orang Newari (masyarakat adat/holyman/Shadu) dengan jubah berwarna kuning. Mereka adalah para penganut ajaran agama Hindu yang taat dan mendedikasikan diri mereka untuk mencapai pencerahan secara spiritual. Mereka selalu menjadi objek favorit para wisatawan, dan biasanya kalau kita mau memotret, mereka meminta sumbangan, berilah seikhlasnya, ini diluar dari harga tiket NRS 1000 atau sekitar Rp 100.000

 

SWAYAMBUNATH

Swayambunath Temple adalah sebuah kuil terletak di atas sebuah bukit yang cukup tinggi diperuntukan bagi umat yang beragama Budha sehingga stupanya pun tampak sama dengan stupa yang kita lihat di Boudhanath. Dari setiap empat sisi Stupa terdapat dua mata Budha yang melambangkan kebijaksanaan dan kasih. Di tengah-tengah kedua mata tersebut ada sebuah simbol yang sangat mirip bentuknya seperti tanda tanya namun sebenarnya simbol itu merupakan simbol Nepal yang berarti “kesatuan”. Sama dengan aktivitas di Boudanath, para monk dan masayarkat Nepal mengitari stupa sambil memutar praying wheels. Beberapa bikhsu tua terlihat santai bercakap-cakap menikmati sore. Selain itu sisi in kita bisa menikmati pemandangan kota Kathmandu dengan bangunan kotak yang berwarna warni.

Ada dua cara menuju Kuil Swayambunath yaitu dengan dengan menaiki ratusan anak tangga yang lumayan curam, dan mulai menghitung satu demi satu anak tangga yang tersusun rapi hingga ke kuil. Pilihan kedua adalah dengan menggunakan taksi hingga ke area parkir, apabila tidak ingin lelah pilihlah alternative kedua ini, Nah dari sini kita akan menjumpai kolam koin, konon yang bisa melemparkan koin dan mengenai patung akan mendapat keberuntungan, kedua cara ini tentu memberikan sensasi perjalanan yang berbeda.

 

GARDEN OF DREAMS, Taman Indah di tengah Kota

Garden Of Dream, Oase di tengah kota Thamel

Siapa sangka diantara hiruk pikuk kota Thamel kita bisa melihat sebuah taman nan indah, dari luar tentu tak terlihat keindahannya, karena di batasi oleh tembok merah panjang, dikenakan biaya sebesar NRS 200 atau Rp 20.000 untuk masuk ke area ini.

Taman ini adalah bagian dari istana Kaiser Mahal yang dibangun pada tahun 1895 oleh Perdana Menteri Bir SJB Rana, yang kemudian diwarisi oleh anaknya Chandra SJB Rana dan selanjutnya menghadiakan kepada temurunnya yaitu Kaiser SJB Rana sebagai hadiah pernikahan. Ditangan Kaiser, taman Kaiser ini berubah menjadi sebuah karya seni. Di dalam taman ini terdapat sebuah ansambel paviliun yang indah, air mancur, dan bangunan bergaya fitur Eropa seperti beranda,teater, galeri, Keishar library dan birdhouses. Kaiser mendirikan enam paviliun yang didedikasikan masing-masing untuk enam musim di Nepal yaitu Basanta (musim semi), Grishma (musim panas), Barkha (musim), Sharad (awal musim gugur), Hemanta (akhir musim gugur) dan Shishir (musim dingin). Saat ini, Garden of Dreams terbuka untuk umum dengan restoran dan bar yang sangat terkenal yaitu

Di ruangan ini terdapat foto-foto para petinggi pemerintah Nepal dan orang-orang penting dunia yang pernah datang ke restoran ini, termasuk Jimmy Carter, Hillary Clinton dan Pangeran Charles, serta para tokoh pemerintahan dan artis Nepal lainnya.

 

NAGARKHOT, Sunset, Moonrise hingga Sunrise

Perjalanan menuju Nagarkot. Jalanan mulai berkelok-kelok, kanan dan kiri disajikan dengan aktivitas petani yang sedang panen, tanah sudah kering dan gundul, di sudut-sudut sawah tampak batang-batang padi tertumpuk rapi membentuk kerucut. Biasanya batang padi ini digunakan sebagai atap rumah ternak. Selain membajak sawah kerbau juga difungsikan sebagai alat bantu merontokkan padi, dua ekor kerbau parallel diikatkan pada tiang pancang, seutas tali terikat pada lehernya sehingga sapi tetap berputar pada jalurnya. Debu kembali terbang liar kesana kemari, terpaksa kaca jendela kembali saya rapatkan, kalau tidak ingin menghirup aroma tanah kering. Dingin, kering dan berdebu, itulah suasana setiap saat disini. Perjalanan 1 jam terasa begitu lambat, karena kami mengejar sunset di Nagarkhot, dengan harap-harap cemas akhirnya tiba tepat waktu, kami memutuskan tidak mencari alamat hotel dulu, namun langsung menuju Tower, dari tower ini kita lebih mudah melihat panorama Himalaya. Jalan terus menanjak, tabrakan mobil sempat membuat kendaraan kami terhenti sesaat, saya dan dua orang rekan memutuskan untuk turun sejenak, selain merasa tak sabar melihat pemandangan Himalaya sore hari, juga untuk lebih memperingan bobot kendaraan kami…dan sesaat kemudian gas kembali meraung-raung, akhirnya berhasil juga lepas dari kemacetan. apakah akan sempat melihat sunset Himalaya???

Area parkir sudah penuh sesak, warung-warung kecil sudah dipenuhi para pengunjung yang usai melihat pemandangan alam. Namun kami tak lagi begitu memperdulikan sekeliling, karena tujuan kami adalah mengejar Sunset.   Mana towernya, dimana?? Pertanyaan yang terus bergelayut, ternyata menuju towerpun Kami harus menaiki anak tangga lagi, yang tampak sudah mulai rusak, bentuknya sudah mulai menyatu dengan tanah, bukan hal yang mudah juga untuk menanjak di ketinggian. Namun tekad dan semangat berhasil membawa kami tiba di tower. Matahari sudah mulai beranjak turun. Sesaat menenangkan nafas kami yang tersengal, menahan dingin dan hasrat memandang Himalaya saat sunset, ujung-ujung jari mulai terasa membeku, semakin dingin. Tiba-tiba segerombolan elang berdatangan, satu.. dua…empat…sepuluh, lebih lebih banyak lagi. Berterbangan di depan kami, bak peragawan dan peragawati hampir 15 menit para elang unjuk tingkah di depan kami.

Sementara langit di ufuk barat sudah mulai menguning dan perlahan gelap dan semburat lembayung menutup petang ini. Para pengunjung mulai turun sebelum gelap. Namun seketika cahaya di timur muncul, seberkas bulatan, semakin besar, naik dari balik puncak Everest, bulan purnama tampil di langit alam, sunggh fenomena alam yang luar biasa. Everest Moonrise, seketika para pengunjung yang setengah jalan kembali bergegas naik ke halaman tower, tak ingin ketinggalan menyaksikan keelokan purnama di puncak Everest

Keesokannya, kami bangun pagi-pagi sekali untuk menikmati pemandangan sunrise. Naik ke rooftop restaurant, kalaulah tidak mengingat perjalanan jauh hingga tiba disini, tentu enggan rasanya membuka mata dan keluar dari tebalnya selimut pembungkus badan. Dari ketinggian sekitar 2000 meter, kami menatap awan-awan terbentang luas di bawah kami. Awan-awan itu nampak kekuningan memantulkan cahaya dari matahari yang mulai naik. Jika memang ada sebuah negeri di awan, inilah tempatnya. Lama-kelamaan awan pun mulai menghilang digantikan oleh kabut tipis yang menyelimuti lembah dan terlihatlah kembali rumah-rumah penduduk di bawah sana.

 

POKHARA, keindahan dari puncak bukit hingga danau

Bagi yang punya hobi petualang seperti treking, paragliding,arung jeram dan penerbangan ultra-ringan, Pokhara salah satu tujuan wisata paling populer di Nepal yang didatangi wisatawan dari seluruh dunia.

Keberangkatan di awali dari Thamel, pagi ini bersiap menuju Pokhara melalui darat, akan ditempuh kurang lebih 8 jam, alternatif lain menuju Pokhara bisa menggunakan pesawat berbadan kecil yang ditempuh selama 30 menit dari Kathmandu. Dengan biaya USD 190

Pokhara sangat terkenal karena suasana yang tenang dan keindahan alam sekitarnya. Kota ketiga terbesar di Nepal ini, menawarkan kombinasi alam dan budaya yang dikenal sebagai pintu gerbang pendakian ke basecamp Annapura, salah satu titik pemberhentian di kaki pegunungan Himalaya. Biasanya trekking yang dilakukan di Pokhara sampai mulai dari 6 hingga paket 25 hari perjalanan.

Di kota ini juga terkenal dengan danau Phewa nan indah, airnya tampak bening dengan pemandangan pegunungan bersalju Himalaya. Pagi hari banyak pengunjung sekedar berjalan-jalan, jogging bahkan aktivitas penduduk lokal mencuci pakaian juga bisa kita temui. Jalanan bersemen melintas sepanjang hampir 2 km, memanjakan para pejalan kaki sambil menikmati sisi danau Phewa. Dari kejauhan tampak pula warna warni payung paraglider.

 

Tibetan Village, Tashi Palkhiel

Sebuah tempat pengungsian Warga Tibet di Nepal yang di bangun tahun 1960 Sejak gejolak pemerintahan di China, banyak warga Tibet yang mengungsi ke Nepal. Sebagai usaha menyambung kehidupan banyak dari pengungsi Tibet membuat kerajinan tangan, mulai dari pernah pernik hingga karpet dari bulu yak yang dibuat secara manual. Disini kita bisa juga menyaksikan orang-orang tua perempuan Tibet duduk di teras depan pabrik tenun karpet. Lima nenek berjajar ada yang menyerut bulu-bulu agar halus, ada yang memintal, semua dilakukan manual dengan tangan dan ketekunan. Sedangkan di dalam ruangan ada 6 orang wanita yang sibuk menggerakkan kayu dan memasukkan benang satu persatu, detak kayu saling beradu, dari suara alat tenun sederhana. Tangan-tangan kokoh itu terampil menyusun baris demi baris karpet dari buku yak. Jadi jangan heran selembar karpet berukuran 60 x 60 cm saja harganya sekitar Rp 750.000 dan karpet ukuran 3 x 4 m mencapai harga 11 juta rupiah dengan berat 16 kg, anda harus membeli extra bagasi di pesawat untuk membawanya ke tanah air.

harga-harga souvenir di Tashi Palkhiel sudah tidak boleh di tawar, ini menjadi sebuah peraturan, namun harganya tak jauh berbeda di pasar souvenir lainnya, anggap saja turut menyumbang bagi kehidupan warga imigran Tibet di Nepal ini.

 

DEVI’S FALL

Jangan difikir ini adalah air terjun para dewi (devi=dewi) salah besar, karena konon dahulu pernah ada bule perancis bernama Devi jatuh dari air terjun ini , setelah pencarian beberapa lama akhirnya jenazahnya ditemukan. 100 meter dari tempat ini ada yaitu ada dalam gua. Di dalam gua juga ada tempat sembahyang dan tidak boleh di foto, namun keberadaan gua dan alamnya boleh di abadikan

CHARLES POINT

Charles Point, hanya 40 menit dari Pokhara, konon Tahun 1998 pangeran Charles pernah berada disini. Menyaksikan keindahan Himalaya dan puncak Everest. Sunset nan indah menutup hari yang melelahkan ini

 

BINDHYABASINI

Bindhyabasini , salah satu kuil tertua di lembah Pokhara berada di ketinggian 3000 mdpl, terletak di sebuah bukit kecil dengan lembah rumah-rumah penduduk, apabila cuaca cerah deretan puncak Annapurna sangat jelas terlihat dari sini . Disembah oleh masyarakat Hindu dan Buddha

 

 

MAKANAN KHAS NEPAL

Thamel, Pokhara, Nagarkhot adalah tiga tempat utama pusat wisata, seperti daerah legian, ubud, jimbaran di Bali, jangan kuatir akan kehabisan makanan, sepanjang jalan banyak restoran ala eropa, timur tengah, ataupun makanan ala jepang. Tinggal pilih mana yang disuka, namun rata-rata restoran juga selalu menyediakan makanan khas Nepali dan Tibetan. Aneka makanan dan minuman khas Nepal dijual secara bebas, dari yang mengandung alkohol maupun tidak, dari merk terkenal hingga merk lokal, seperti Everest, gorkha. Namun satu yang jalan ketinggalan yaitu Nepal Tea (Masala Tea) – The nepal yang biasanya dicampur dengan susu yak. Uhmm citarasa beda dari sebuah sajian teh.

Sedangkan menu khas makanan jangan terlewat mencicipi Momo, diselubungi oleh lapisan tipis mirip kulit pastel yang berisikan daging kerbau yang dicincang dan ditambah sayur-sayuran seperti kubis dan kentang (mirip dimsum ataupun siomay), namanya unik ya, tapi rasanya lezat, dicocol dengan saus sambal, tapi jangan heran kalau semua saus sambal disini berwarna kekuningan, karena tidak ada cabai merah, namun hanya ada saus kental aroma kare dan pedas oleh merica, bagi yang kurang cocok, jangan lupa membawa sambal bubuk atau saus sambal sendiri dari Indonesia. Sedangkan makanan beratnya ada Dal Bhat satu set makanan ini disajikan dalam nampan, dan mangkuk-mangkuk perunggu, yang berisikan Tarkari yaitu gulai kacang merah, nasi, kentang dengan kuah kare, serta saus sambal yang juga aroma dan rasa kare, dan tak lupa kare daging kerbau nan kental. Jangan bandingkan rasa kare di Indonesia, karena kare disini the real kare, bumbu dan aromanya sangat menyengat. Satu minggu di Nepal dan tiap hari makan Dal Bhat menyebabkan keringatpun beraroma kare …

 

Selain itu di Pusat Kota ada pula KFC dan Pizza Hut, franchise ini tersedia bagi wisatawan yang tak terbiasa makan makanan khas nepali, francise makanan cepat saji ini baru masuk ke kota Nepal di Tahun 2009 lalu.

 

Buah Tangan

Beberapa produk seni dan kerajinan terbaik Nepal dalam bentuk ukiran kayu, patung logam, perhiasan, pisau kurkhi, hingga karpet wol dan pakaian rajutan hingga jaket. Batu batu permata, perak, artefak keagamaan, koin antik Tibet sampai lukisan dan gambar-gambar alam pegunungan Himalaya. Semua ini dengan mudah di peroleh sepanjang Thamel, serta di objek-objek wisata. Rajin-rajinlah menawar, karena selain di mini market dan toko buku terkenal, semua harga bisa ditawar.

Nepal bisa dibilang negara kurang berkembang, namun kultur budaya, spektakuler alam sampai teknologi informasi, bisa menjadi terdepan dan sumber inspirasi yang tak tertandingi. sangat colorful. Mulai dari prayer flag yang menggantung di tempat ibadah, jalanan hingga sepanjang pegunungan di Nepal, serta pakaian sehari-hari wanita Nepali yang khas. Jadi kunjungan sekali tak akan pernah cukup

 

Catatan:

  • Kathmandu’s Tribhuvan International Airport (TIA) Penerbangan dari Jakarta ditempuh kurang lebih 6 jam atau 8 jam dengan sekali transit di Kualalumpur
  • Transportasi di Kathmandu lebih mudah dengan menggunakan taksi, dari airport menuju pusat kota membutuhkan biaya hanya sekitar 600 NPR (Nepalese Rupee) atau sebesar Rp. 60.000
  • Penginapan kelas backpacker hingga Hotel berbintang bervariasi dengan harga antara Rp.90.000 – Rp.2.000.000 per malam, bertabur di sepanjang kota Thamel
  • Suhu udara pada siang hari yaitu 16 C dan bisa mencapai 3C di waktu malam, disaat musim kering terdingin yang berlangsung mulai bulan Oktober sampai Juni
  • Jangan lupa membawa pasphoto ukuran 3×4 dengan latar belakang putih untuk keperluan Visa, dan apabila ingin membeli simcard N cel, juga diperlukan pasphoto bagi wisatawan

Comments

  1. deddyhuang.com

    mbak raiya, kalau di Nepal itu aku pernah dengar living costnya lumayan mahal sekitar $200/hari belum lagi untuk masuk ke sana juga terbatas turisnya.

    aku menikmati foto-foto perjalananmu yang khas ini. suka sama bangunan-bangunan heritage setempat.

    1. Post
      Author
  2. Evi

    Budaya di Nepal itu Mirip tetangganya India sepertinya ya, Uni. Kental banget dengan ciri khasnya. Jadi nggak sabar pengen ke Nepal…

    1. Post
      Author
  3. Haryadi Yansyah | Omnduut

    Kota/negara yang dibilang para fotografer sebagai tempat yang fotogenic. Mau diambil dari sudut mana aja kece 🙂 Mupeng mau ke sana, dulu pas gempa Nepal, ngerasain getarannya di India. Rasanya udah deket banget, tapi belom berkesempatan. Semoga ada waktu dan rezekinya nanti. Amin.

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author

Leave a Reply to Haryadi Yansyah | Omnduut Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *